Istiqomah dan Teratur, Kunci Sukses Menghafal Al-Qur'an

Bangga, senang dan tentunya bersyukur kepada Allah SWT adalah perasaan yang dirasakan semua orang tua jika anaknya hafal Al-Qur'an. Persaan ini pula yang dirasakan oleh Ibu Neny Triana, ibunda dari ananda Annisa Bulan Kirana, siswa kelas X SMA IT Al-Hikmah Blitar yang sudah hafal Al-Qur'an 30 juz sejak usia 15 tahun. Ya, dia merupakan seorang ibu yang hebat bisa mengantarkan anaknya berhasil menjadi seorang hafiz (penghafal Alquran). Ibu Neny begitu beliau biasa disapa menuturkan bahwa, keberhasilan anaknya dalam menghafal Al-Qur'an tentunya tidak lepas dari peran orang-orang terdekatnya, keluarga, teman, terutama gurunya. Menurut ibu dua anak ini, keberhasilan ananda menghafal Al-Qur'an karena beliau menerapkan pola asuh yang demokratis di rumah. Beliau membiasakan untuk berdiskusi setiap hari dengan ananda, apabila ada masalah segera dicari penyelesaian secara bersama-sama. Tentunya keberhasilan yang dicapai ini tidak semudah membalik telapak tangan, membutuhkan perjuangan, pengorbanan, keikhlasan dan keistiqomahan dalam aktivitas sehari-hari. Pembiasaan atau aktivitas yang dilakukan setiap hari tidak sia-sia, diawali dari bangun tidur pukul 03.00 WIB pagi, kemudian salat Tahajud, salat Subuh, murojaah (mengulang hafalan), belajar, membantu orang tua adalah aktivitas yang setiap hari dilakukan. Sepulang sekolah pukul 15.45 WIB, ananda masih mengikuti les sampai pukul 17.30 WIB. Selepas salat Maghrib setoran hafalan dan sebelum tidur, dia mengulang hafalan yang disetorkan. Walaupun rutinitas itu dilakukan setiap hari, ananda masih memiliki jam bermain dan berinteraksi dengan teman, keluarga maupun tetangga. Motivasi menghafal Al-Qur'an ini selain atas inisiatif sendiri juga karena ananda mendengarkan tausyiah seorang ustad yang berbunyi: Asyrafu ummati hamalatul Qur'an, umatku yang paling mulia adalah para penghafal Al-Qur'an; demikian nilai, sekaligus asa dan cita yang tertanam dalam jiwa para penjaga Al-Qur'an. Kesadaran yang seakan tak pernah redup selama jantung masih berdegup. Dengan pengharapan besar akan keutamaan Al-Qur'an, ayat demi ayat dihafal dan disenandungkan, memanjakan telinga orang-orang yang mendengarkan. Sudut-sudut lembar mushaf diingat dan diurutkan, hingga tidak ada yang terlewatkan. Para Penjaga Al-Qur'an, sebutan yang kiranya tidak berlebihan untuk disematkan. Penjaga tradisi menghafal yang sejak Nabi Muhammad wafat, telah diwariskan. Tradisi yang sekaligus menjadi amaliah ibadah dalam rangka memelihara keotentikan ayat-ayat Al-Qur'an. Tradisi yang dibangun atas sebuah harapan besar mendapat syafa'at ketika kiamat datang. Iqra'ul qur'an fainnahu ya'ti yaumal qiyamati syafi 'an li ashabihi, bacalah olehmu Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa'at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya). Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: 'Siapa yang membaca Al-Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, 'Mengapa kami dipakaikan jubah ini?' Dijawab, 'Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur'an.' (H.R. Al-Hakim). Hal ini yang mendorong ananda untuk menghafal Al-Qur'an seperti yang diutarakan sang ibu. Diakhir wawancara, ibu yang memiliki hobi bermain basket ini berpesan kepada seluruh orang tua, terutama ibu, sebaiknya ibu mempunyai jadwal untuk buah hatinya. Bukan hanya jadwal belajar, namun jadwal bermain anak juga harus ada, termasuk jadwal istirahat serta jadwal makan dan yang lainnya. 'Anak-anak harus main dan ketika main nggak boleh diganggu. Begitu juga kalau jadwal belajar ya harus belajar jangan diganggu. 'Seorang ibu harus istiqamah, jangan 'ah namanya juga anak-anak', lalu disepelekan. Orang tua harus membuat anak teratur, jadi anak terbiasa hidup disiplin, terbiasa melawan hawa nafsu,' paparnya. Jangan mendikte anak, tapi ajarkan anak untuk selalu berpikir, berdiskusi dan arahkan anak supaya mereka bisa membuat kesimpulan dan mengambil keputusan sendiri yang terbaik. Semoga SMA IT Al-Hikmah Blitar bisa mencetak generasi yang 'mbeneh' (bahasa Jawa, baca: baik), karena walaupun pintar dan kaya tetapi kalau tidak 'mbeneh', orang tua akan rugi dunia akhirat.