Elegi Cinta Ibu

Karya: Syifauddin Abul Uula*

Ibu adalah sosok wanita yang luar biasa, perjuangan seorang ibu sangatlah mulia demi anaknya. Sembilan bulan lamanya mengandung, merawat anaknya dengan penuh kasih sayang, terkadang anaknya yang ditengah malam terbangun karena lapar atau haus, sang ibu juga bangun untuk melayani anaknya. Sungguh perjuangan ibu sangatlah luar biasa, seperti yang ada di lagu anak-anak yang berjudul Kasih Ibu Kepada Beta.
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.
Namaku Budi, aku tinggal bersama ibuku. Ibuku sangatlah menyayangiku, ketika kecil dulu aku bersama temanku sering bermain di sungai untuk mencari ikan. Saat itu ibu menjemputku untuk menyuruhku pulang. “Bud, ayo pulang! Teriak ibuku.
“Iya bu sebentar lagi Budi pulang Jawabku kepada ibuku.
 Tiba-tiba temanku mendorongku ke sungai dan aku jatuh ke dalam sungai yang aliran airnya sangat deras. Aku terhanyut, ibu sangat panik, berteriak-teriak memanggil namaku, ibu pun terjun ke sungai berusaha menolongku. Aku berhasil selamat, sambil tertatih dibopongnya aku ke pinggir sungai. Sekuat tenaga ibu menolongku. Itulah kenanganku yang terlupakan dari ibu.
                                                 ***
Saat ini usiaku 25 tahun. Aku merantau ke kota sejak umurku 9 tahun. Aku  memaksa ibu untuk mengijinkan turut Pak Agus sopir truk dari kota. Walau ibu tidak mengijinkan, namun aku tetap berangkat karena tekadku telah bulat. Satu lembar foto ibu kubawa untuk mengobati rinduku kepada ibu. Mulailah aku hidup di kota, bekerja serabutan dan sekolah sebisanya. Aku pun memiliki penghasilan sendiri, dan tabunganku di bank juga sudah lumayan untuk kupakai seperti yang aku impikan, yaitu menikah, Tak lama kemudian aku juga akan menikahi gadis kota, tapi diantara kebahagiaan yang aku miliki sekarang, ada satu yang membuatku bersedih. Ibu, dimanakah ia sekarang? Doa demi doa kupanjatkan agar aku dipertemukan kembali oleh ibuku, aku yakin suatu saat nanti aku pasti akan dipertemukan oleh ibuku. Seperti pepatah mengatakan “Semua itu indah ketika pada waktunya, aku selalu sabar  menunggunya.
                                                    ***.
Sekarang aku telah menikah aku sangat bahagia sekali, aku sekarang mempunyai seorang istri dan aku sangat menyayangi istriku seperti ibuku menyayangi aku. Kebahagiaanku semakin bertambah karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah.
Esok harinya aku berencana untuk pergi ke panti jompo guna memberikan sumbangan rutinku kepada mereka yang ada di sana.Aku ke panti jompo ini telah beberapa kali, mungkin sekitar 5 kali. Ada satu wajah yang telah mengusik hatiku. Meski baru saja aku melihatnya wajahnya sudah sangat melekat di hatiku, dan aku yakin, sebelumnya aku pasti telah mengenalnya. Aku pun langsung mendekatinya dan bertanya kepadanya.
“Ibu, sejak kapan ibu berada disini? Tanyaku kepada ibu tersebut.
“Saya disini beberapa hari yang lalu Nak, memangnya mengapa? Jawab ibu tersebut.
“Saya kemari sudah beberapa kali bu, tapi melihat ibu baru kali ini saja
“Bu, apakah betul ibu yang bernama Sutarmi? Tanyaku kembali ke ibu tersebut sambil memegang foto tersebut.
“Ini foto ibu kan? Aku menunjukkan foto tersebut kepada ibu tersebut.
“Budi, apakah kamu Budi anakku yang sewaktu kecil dulu menghilang? Ibuku kembali bertanya.
“Iya bu, aku Budi anak ibu yang bertahun-tahun hilang, Jawabku kepada ibuku sambil memeluk erat ibuku seakan-akan aku takkan mau melepasnya lagi.
“Bu tapi kenapa kaki ibu hanya ada satu? Tanyaku dengan heran kepada ibuku.
“Ohh ini, dulu ibu kecelakaan dan ibu harus kehilangan satu kaki ibu ini Jawab ibuku kembali.
“Bu, kok bisa seperti ini? Aku kangen sekali dengan ibu, setiap hari aku selalu berdoa agar aku dan ibu dipertemukan kembali. Dan sekarang doaku didengar oleh Allah. Sahutku kepada ibuku.
“Ya nak, ibu juga sangat merindukan kamu setiap hari ibu juga berharap agar biasa bertemu denganmu. Bagaimana keadaanmu sekarang? Tinggal dimana? Ibuku kembali bertanya kepadaku.
“Bu, Budi baik-baik saja, Budi sekarang juga sudah menikah beberapa bulan yang lalu, dan sebentar lagi Budi akan mempunyai seorang anak.
“Budi kamu sekarang sudah sukses Nak, ibu bangga sekali mempunyai anak seperti kamu, dan kamu sekarang juga sudah mempunyai gadis kota, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah?  Jawab ibu tampak senang mendengar cerita suksesku.
 Setelah begitu lamanya aku berbincang dengan ibuku, aku memutuskan membawa ibuku pulang ke rumah.
Ibuku senang sekali melihat aku telah menjadi orang yang sukses. Kemudian aku dan ibuku pun langsung masuk rumah, istriku kaget melihat aku pulang bersama seorang ibu yang cacat.
“Mas ini siapa? Mengapa bisa bersamamu? Tanya istriku dengan nada marah
Aku mencoba menenangkanya. Aku suruh istriku duduk mendengarkan penjelasanku.
“Ini ibuku, tak sengaja tadi saat di panti jompo aku menemukan ibuku kemudian aku membawanya pulang penjelasanku.
“Hah ibumu? Cacat begini? Hanya mempunyai satu kaki? Tanya istriku ketus.
“Sayang, apapun yang ada, bagaimanapun wujudnya ini adalah i-bu-ku. Karena beliau aku ada disini, karena beliau aku bisa menikah denganmu jawabku kepada istriku dengan nada tinggi.
“Aku tidak mau tau, kamu bilang apa yang penting aku tidak mau wanita tua ini ada di rumah kita, kalau kamu masih memaksa ia tetap tinggal disini kamu boleh memilih, dia atau aku yang keluar dari rumah ini. Kalau kamu sayang dengan istrimu kembalikan lagi wanita tua ini dari mana asalnya kamu temukan, tapi kalau kamu pilih wanita itu silahkan ceraikan aku. Kamu sayang aku kan? Sebentar lagi kita juga mempunyai anak. Panjang lebar teriakan istriku dan langsung meninggalkanku.
Aku diam, hening, kulirik ibuku terpaku. Mata beningnya mulai berlinang. Sebentar lagi aku akan mempunyai anak, dan aku tidak mau anakku lahir tanpa memiliki ayah. Tapi di sisi lain, aku tidak mau kehilangan ibu lagi. Ibu yang telah lama aku rindukan, ibu yang selalu hadir dalam lantunan doa-doa penghujung sholatku. Aku hanya bisa diam, tanpa mampu memutuskan. “Budi, biarlah ibu kembali ke panti jompo lagi. Kejarlah istrimu! Kata ibu menyakitkanku lewat tatapan matanya. Aku hanya bisa melangkah, mengikuti ibu pergi, mengantarkan kembali ke panti jompo.
Setelah beberapa bulan kemudian, anakku lahir dia sangat lucu dan aku memberikan nama Syifa, Syifa adalah nama yang bagus untuknya yang mempunyai arti obat, dengan nama itu mungkin dia bisa mengobati hatiku, kekecewaanku saat ini, yang dulu telah mengusir ibuku dari rumahku. Entah mengapa aku ingin sekali kembali ke panti jompo untuk bertemu lagi dengan ibuku untuk memastikan bagaimana keadaan ibuku sekarang. 
Besoknya, aku pergi ke panti jompo untuk melihat bagaimana keadaan ibuku sekarang. Sesampainya aku disana ibuku sudah tidak ada, hanyalah sebuah surat yang dititipkan untukku.
   Budi, ibu tahu kamu di posisi yang sulit. Memilih antara ibu dan istrimu. Ibu berharap kamu bahagia dengan keluarga kecilmu, ibu tidak marah, Nak. Namun ibu berharap kamu tidak melakukan ini kepada ibu perasaan ibu juga sedih namun perasaan sedih ibu, ibu sembunyikan dari kamu. Sewaktu kamu kecil, ibu berharap agar kamu ketika besar nanti menjadi orang yang sukses, berbakti kepada ibu tapi mengapa kau sekarang menjadi seperti ini? Padahal ibu sayang sekali kepadamu, telah bertahun-tahun lamanya ibu mengharap bisa bertemu denganmu. Bertemu kamu hanya sebentar sekali dan kamu lebih memilih istrimu nak dibandingkan ibumu yang sekarang tua rentah, yang hanya memiliki satu kaki. Tidak mengapa Nak, asal engkau bahagia. Kalau boleh cerita sedikit kaki ibu ini sebenarnya dulu ketika ibu menyelamatkanmu ketika kamu hanyut di sungai, kaki ibu dulu terbentur batu besar yang keras sewaktu menolongmu. Dan terpaksa kaki ibu harus di amputasi dan ibu hanya memiliki satu kaki. Ketika ibu dulu bilang kepadamu dulu ibu bilang kalau ibu mengalami kecelakaan. Ibu tidak ingin memberitahumu sebenarnya, ibu tidak ingin membuatmu sedih karena kita baru saja bertemu. Sekarang ibu terpaksa harus pergi dari panti jompo ini, ibu tidak ingin melihat kamu bersedih lagi. Ibu hanya berdoa supaya engkau dan keluargamu bahagia, meski tanpa ibu. 
Setelah membaca surat tersebut dari ibuku, aku merasa sangat bersalah kepada beliau air mataku langsung jatuh ke pipiku. Bahwa ibuku selama ini bohong kepadaku kalau kaki itu bukan karena kecelakaan, tapi karena menolongku sewaktu aku kecil dulu. Ibuku berbohong hanya tidak ingin melihatku sedih. Dan sekarang aku bingung harus mencari ibuku dimana. Aku sungguh menyesal sekali mengapa aku dulu mengusirnya dari rumahku, hanya memilih istriku yang tidak tahu diri itu. Sungguh durhaka diriku terhadap ibuku. Mengapa aku tega melakukan ini semua terhadap ibuku, padahal karena ibuku juga aku bisa sampai sekarang ini, karena demi aku ibuku harus kehilangan satu kakinya itu, sungguh aku memang kejam. Sungguh aku sekarang seperti orang yang tak berdaya terus memikirkan bagaimana kondisi ibuku sekarang.

*Penulis adalah siswa kelas X-A