Pembelajaran Matematika

Oleh: Miftahul Muin, M. Pd*

Matematika adalah bahasa simbol, ilmu deduktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan, aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil (Ruseffendi dalam Herman, 2007), sedangkan hakikat matematika memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan (Soejadi, 2000).

Pola yang terbentuk selama ini, siswa dalam belajar matematika lebih dominan pada algorithm thinking atau berpikir secara logaritma. Cara berpikir algoritmis dalam belajar matematika lebih ditekankan pada memahami langkah-langkah dalam menyelesaikan suatu soal, tanpa melihat lebih dalam mengapa langkah-langkah tersebut dapat dilakukan. Bila pendekatan ini mendominasi dalam pembelajaran matematika, maka siswa hanya akan menjadi manusia mekanik/ manusia mesin yang mampu dan cepat dalam menyelesaikan soal yang mirip (similiar) dengan contoh sebelumnya, tetapi tidak mampu mengerjakan jika soal tersebut dimodifikasi.

Pembelajaran matematika dan sains di sekolah, secara umum masih bersifat konvensional. Pembelajaran konvensional biasanya menggunakan pembelajaran yang bersifat langsung atau disebut sebagai model pembelajaran langsung atau mirip dengan pembelajaran ekspositori/ ceramah. Model pembelajaran ini memiliki beberapa ciri, diantaranya adalah proses pembelajaran terpusat pada guru (teacher centris) dan memiliki pola urutan pembelajaran: penjelasan pemberian contoh soal latihan review/ pembahasan.

Borich (1992) menunjukkan ciri-ciri pembelajaran langsung, yaitu: (1) pembelajaran pada kelas besar; (2) pengorganisasian pembelajaran seputar pertanyaan yang diajukan guru; (3) latihan yang rinci dan berlebihan; (4) penyajian materi berupa fakta, aturan dan prosedur baru yang harus dikuasai sebelum fakta, aturan atau prosedur berikutnya disajikan; dan (5) susunan tugas formal kelas untuk memaksimalkan latihan dan praktek.

Penerapan Kurikulum 2013 secara nasional menuntut guru untuk melakukan restorasi dan revolusi pembelajaran. Paradigma pembelajaran guru selama ini lebih menekankan pada apa yang telah diajarkan, sudah sampai mana materi yang telah diajarkan, sekarang seharusnya berkembang menjadi kompetensi apa yang sudah dikuasai siswa. Jadi, siswa tahu apa, bagaimana, dan mengapa kompetensi tersebut diajarkan.

Salah satu karakteristik Kurikulum 2013 adalah sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Di samping itu, menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah informasi dan mengkomunikasikan.

Pendekatan pembelajaran seharusnya diarahkan agar siswa mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa belajar lebih mandiri dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, serta dapat menguasai kompetensi yang diharapkan. Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berpusat pada guru. Harapan tersebut tidak sejalan dengan kenyataan yang ada. Hasil studi PISA (Program for International Student Assessment), 2009 menunjukkan bahwa Indonesia pada peringkat ke-61 dari 65 negara. Selain itu, hasil studi TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study), 2011 juga  memaparkan hasil yang tidak jauh beda. Hasil TIMSS menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada peringkat sangat rendah yaitu pada peringkat 38 dari 42 negara. Dengan predikat ini dapat mencerminkan gambaran kualitas pendidikan Indonesia.

Dalam pembelajaran matematika, siswa masih terbiasa untuk menunggu penjelasan dari guru. Guru mengajarkan konsep matematika dan dilanjutkan dengan pemberian contoh soal dan latihan, sedangkan siswa hanya mendengarkan, mencontoh atau menyalin pekerjaan guru sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang bermakna. Siswa cenderung menghafal  konsep, rumus matematika tanpa disertai pemahaman yang baik.

Kondisi seperti ini harus segera diperbaiki melalui perbaikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Menurut Suprihatiningrum (2013:108), kemampuan yang  harus dimiliki oleh seorang guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran adalah perencanaan pembelajaran. Hal tersebut berarti guru memiliki peran penting dalam suatu sistem pembelajaran, baik sebagai perancang maupun pelaksana kegiatan pembelajaran. Guru harus membuat perencanaan pembelajaran sehingga mampu mengelola pembelajaran dengan baik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran. Sejalan dengan hal ini, guru matematika seharusnya mampu menerapkan suatu strategi pembelajaran agar konsep yang diajarkan pada siswa dapat dipahami. Dengan demikian, guru perlu mempersiapkan pendekatan, strategi dan metode yang kreatif, menciptakan suasana pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.

Kondisi yang ada di lapangan belum semua guru telah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan standar. Hal tersebut disebabkan oleh sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013, tetapi guru tetap menggunakan RPP model lama. Ada juga guru yang menggunakan RPP dari penjual buku di tiap-tiap sekolah, tanpa dilihat ketika melaksanakan pembelajaran. Kenyataan di atas diikuti oleh pemahaman yang belum seragam antara guru yang satu dengan yang lain, kondisi sekolah satu dengan sekolah lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Yang terjadi, kondisi yang ada dibiarkan berjalan sesuai kemampuan penerapan masing-masing guru terhadap fenomena yang sedang berkembang. Konsekuensi pekerjaan guru sebagai profesi menjadi belum dapat dipertanggungjawabkan baik secara hukum maupun moral. Kedua, para guru yang telah menyusun RPP masih terkesan proforma dan melengkapi kewajiban saja, yang penting ada RPP di kelas, apa pun bentuknya.

Pada kondisi demikian para guru yang melaksanakan pembelajaran lebih banyak menggantungkan diri pada buku teks yang ada. Apa yang tertera dalam buku teks itulah bahan ajar yang disampaikan kepada peserta didik. Pendekatan kurikulum yang berorientasi pada tujuan hampir lepas dari pola pikir para guru. Dengan demikian harapan agar guru dapat bekerja secara profesional yang ditandai dengan pertanggungjawaban atas kinerja sesuai tuntutan standar kompetensi guru masih jauh dari jangkauan. Pembelajaran yang diharapkan terencana dengan matang, serta mampu meningkatkan aktivitas peserta didik yang tidak hanya menerima begitu saja materi dari guru belum sepenuhnya terlaksana.

*Penulis adalah guru SMA IT Al-Hikmah Blitar